Uncategorized

Seberapa Dini Kamu Perlu Merencanakan Pendidikan dan Karirmu?

Kawan MinVit, apakah kamu termasuk orang yang melakukan perencanaan terlebih dahulu sebelum melakukan apapun, atau orang yang go with the flow? Well, bacaan ini bisa menjadi pertimbangan bagi semua orang, karena semua orang pasti menuju satu tujuan: untuk sukses, entah itu di bidang manapun dan dalam definisi apapun. Sukses pun datangnya bukan dengan turun dari langit – kecuali mungkin keberuntungan sedang berada di pihak kamu, karena sukses pun tak lepas dari peran keberuntungan, sadly. Namun, bukan berarti orang yang sudah berusaha tidak menghasilkan apapun karena sejatinya tidak pernah ada yang sia-sia dari usaha kita, setuju gak kawan MinVit?

Nah, dalam hidup, pastinya kita melewati beberapa tahap, dari mulai masih kecil lalu berproses menjadi dewasa secara fisik dan secara pikiran. Tidak ada yang langsung menjadi dewasa, semuanya melewati proses dengan cara yang berbeda-beda. Di dalam proses ini, perkembangan dan pengarahan minat bakat anak biasanya tidak lepas dari peran keluarga atau juga pengaruh lingkungan sekolah, teman-teman sepergaulan, budaya sekitar, atau dari internet, walaupun pada akhirnya yang (seharusnya) menentukan perjalanan karir adalah kita sendiri. Nah, seperti yang sudah dikatakan di awal tadi, bahwa apapun prosesnya, apapun yang sedang digapai, hidup itu untuk menjadi sukses, bisa sukses dalam pendidikan, sukses dalam pekerjaan, sukses dalam keluarga, atau bisa sesimpel sukses menjadi bahagia, bagaimanapun keadaannya. Banyak definisi sukses yang mungkin hanya kita yang tahu, hal yang jelas adalah bahwa untuk menuju tujuan, kita harus mempunyai perencanaan yang matang. 

Seberapa awal kita perlu melakukan perencanaan hidup?

“Bagaimana kalau sudah merencanakan, tapi tetap gagal?” The reality is, kegagalan dalam hidup itu sudah pasti dan sudah menjadi bagian dari proses tidak dapat dihindari. Jadi sebaiknya dalam merencanakan sesuatu, kita juga bisa mengantisipasi kegagalan dan cara mengatasinya.

Itulah mengapa kita membutuhkan perencanaan. Perencanaan bukan sesuatu yang dilakukan 1-2 hari, namun perencanaan yang baik dilakukan jauh hari sebelumnya. Perencanaan bisa dilakukan sedini mungkin, dan dalam hal ini, kita mau membicarakan perencanaan dalam pendidikan dan karir. Untuk pendidikan awal, mungkin kita belum bisa melakukan perencanaan karena masih di bawah tanggung jawab orangtua sepenuhnya, namun untuk pendidikan tingkat lanjut setelah menginjak usia legal, kita bisa memilih jurusan yang kita ingin tekuni. Peran yang bisa kita ambil bisa sesimpel memilih jurusan IPA, IPS, atau Bahasa untuk memilih jurusan kuliah dan karir di depannya, atau memilih SMA tertentu untuk bisa masuk ke perguruan tinggi yang diminati. Setelah kuliah, kita bisa mulai merencanakan apa yang ingin dikerjakan setelah lulus, dan apa saja yang bisa dilakukan saat kuliah untuk menunjang rencana tersebut.

Mengapa kita perlu melakukan perencanaan?

  1. Menghindari salah langkah 

Memang ada benarnya ketika orang mengatakan kita belajar banyak dari kesalahan. Namun, ada baiknya juga kalau kita bisa meminimalisir kesalahan tersebut dengan membuat perencanaan yang baik. Jika pada akhirnya tidak terjadi seperti yang kita rencanakan, di situ kita juga akan banyak belajar – mengalami kegagalan, bangkit dari kegagalan itu, dan juga makna dari perencanaan yang telah dilakukan. 

  1. Dunia bersifat dinamis, butuh persiapan mental dalam menghadapinya

Dunia ini selalu bergerak secara dinamis, tidak menunggu siapapun. Semenjak kecil, kita dituntut untuk mengikuti alurnya hidup, jadi perlu menyiapkan mental yang kuat dan perencanaan yang matang sedari dini agar bisa menghadapi konsekuensi apapun di depannya.

  1. Pengalaman hidup bisa membawa kamu ke kesempatan yang membuka jalan karir kamu

Pengalaman dan kesempatan bisa datang darimana saja, dengan memiliki perencanaan yang matang, hal itu bisa membuka banyak jalan untuk kamu. Tidak hanya itu, memiliki perencanaan bisa mempersiapkan kamu menuju ke banyak kesempatan pula, yang nantinya bisa membuka jalan karir kamu.

  1. Melatih diri untuk berpikir ke depan dan lebih kritis

Di dalam hidup, kita dibutuhkan untuk berpikir ke depan dan juga lebih kritis. Mengapa? Karena dengan memiliki pikiran yang maju dan kritis, kita bisa berpikir secara logis dan bisa mengevaluasi masalah hidup dari berbagai sisi. Termasuk di dalam membuat perencanaan, dibutuhkan pemikiran yang luas dan terbuka agar bisa membuat perencanaan yang matang dan terstruktur. 

Satu hal yang pasti, tidak ada kata terlambat untuk membuat perencanaan. Namun, perencanaan yang baik bisa dipersiapkan sedini mungkin! Semoga dari bacaan ini, kita bisa menata hidup dan semangat dalam menghadapi segala rintangan!

Importance Of Knowing Your Dominant And Recessive Skills: A Guide For School Students

We are all aware of the fact that every individual has different skills. Some people are good at sports, some are good at academics and some are good at other things. However, there is a certain set of skills that every individual has but awareness of their dominant and recessive skills is not there. A lot can be achieved if only people were aware of their dominant recessive skills and have the resources to work upon them.

UN WHO LifeSkills Model and how it will benefit you

What is the LifeSkills Model? The UN WHO (World Health Organization) developed the Life Skills model to help people manage their lives better. The theory behind this model is that a person’s behavior can be controlled through self-direction, planning and goal setting. The Lifeskills Model has five basic steps: 

  1. Learning about yourself; 
  2. Setting realistic goals for yourself; 
  3. Planning how you will achieve your goals; 
  4. Following up on your plans;
  5. Evaluating your progress.

The first step in the Lifeskills Model is to learn about yourself. This means that you need to take a good look at your strengths and weaknesses. You also need to understand your personal values and beliefs. The second step is to take a good look at the person you want to be. This means that you need to know what kind of person you want to be in the future. The third step is to take a good look at the person you are now. This means that you need to know what kind of person you are right now. The fourth step is to plan for the future and map your current skills with your future and identify the gap in skills required to achieve what you want.

How UN WHO LifeSkills model will help you make career choices

It is very important to be able to make a choice for your career. In the present scenario, where you have an array of options and there are several courses available in different fields, it becomes very difficult to choose the right one. The present day world is so fast paced that it becomes very difficult to find time for yourself. This is the reason why you need to be extra careful while choosing a career. It is important to choose a career which will not only help you in earning but will be something that you’ll love doing.

UN WHO LifeSkills is a global platform for self-assessment. You can use the LifeSkills to reflect on your values, skills, talents and interests. This can help you decide what career options suit you best. LifeSkills was designed to help young people make informed and responsible choices about their future. It helps us understand what we’re good at, how we think and feel, where we want to go and how we want to get there.

  1. It will help in deciding the career based on your skills and interests.
  2. It will help in making a better decision about the job which you are interested in doing. 
  3. It will help in finding out the career that is best suited for you.
  4. It will help you identify the areas you need to improve upon.

USE OF AI and LifeSkills model to help you make sound career decisions

AI based career counseling coupled with the UN WHO LifeSkills model can provide you with a set of tools that will help you in making your career decision. The AI system can help you with your career choices by providing you with information that is relevant to your needs after understanding who you are, what your strengths and weaknesses are. This makes it easier for you to decide on a career path of your choice. It’s an excellent tool for students who do not know about their skills, interests or want to change their careers.

We hope this article has given you some insights into the future of AI in making career decisions! Please like, follow, and comment on our social media pages for more such articles.

Generasi Belajar Daring, Momen Kesempatan atau Kehilangan?

Seperti yang kita tahu, sekolah dan kantor banyak yang menerapkan kondisi PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) atau Work From Home (WFH). Kondisi yang sekarang belum memungkinkan orang – orang untuk berkumpul dalam jarak dekat dan melakukan hal – hal secara normal, hence it’s called the New Normal. Pembelajaran di sekolah dan kampus dilakukan dalam sistem daring dan sekarang juga sudah mulai hybrid learning (metode pembelajaran yang mengkombinasikan sistem pembelajaran tatap muka dan sistem pembelajaran daring). Awalnya ini menjadi polemik tersendiri, penuh dengan keraguan apakah langkah ini dapat dilakukan – belajar dari rumah, mengajar dari rumah, bekerja dari rumah. Bagaimana dengan yang bekerja di lapangan? Apakah semua mendapatkan akses internet? Apakah semua orang mempunyai perangkat yang memadai? Banyak hal yang menjadi pertimbangan, tetapi untuk keselamatan bersama, semua hal harus dicoba, dipahami dan dimaklumi. 

Tidak terasa 2 tahun sudah berjalan dengan melakukan semuanya di rumah, secara daring. Hal ini kemudian menyorot kegiatan belajar mengajar. Dengan ini, siswa menjadi kehilangan kesempatan dalam merasakan sensasi belajar di sekolah sepenuhnya, kehilangan interaksi langsung dengan teman – teman dan guru, dan juga dengan lingkungan sekolah. Semua interaksi dilakukan secara daring dan jarak jauh. Lingkungan yang dihadapi juga lingkungan di rumah, bukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pembelajaran dilakukan lewat daring menggunakan aplikasi Zoom dan Google Meet, didukung dengan Google Classroom, Group Whatsapp dan beberapa aplikasi penunjang lainnya. Tentu ini sebuah perubahan dari sistem konvensional pembelajaran dan pastinya memiliki berefek pada setiap siswa. Pemerintah memberikan bantuan dalam bentuk bantuan uang dan juga peralatan pembelajaran jarak jauh, namun pada kenyataannya mungkin ada yang merasa dimudahkan, namun tidak sedikit juga yang merasa sulit dengan keadaan ini. Apa saja efek yang dirasakan siswa dan juga guru – guru yang mengajar, dan juga apakah hal ini menjadi momen kesempatan atau kehilangan? Bagaimana cara memaksimalkan kondisi ini?

Efek yang dirasakan para siswa dan juga guru

Sistem pembelajaran jarak jauh ini tidak hanya memberikan efek kepada siswa – siswi, tapi juga kepada sekolah dan juga guru – guru yang mengajar. Untuk para siswa – siswi, efek yang dirasakan tidak hanya kehilangan masa – masa di sekolah, namun juga kehilangan interaksi dengan teman, guru, dan lingkungan sekolah. Beban mental yang dihadapi juga lama kelamaan terasa, karena rumah yang seharusnya menjadi tempat mereka istirahat, menjadi tempat sekolah dan belajar juga. Kondisi kesehatan mereka juga bisa terpengaruh, dari yang biasa melihat papan tulis dan buku, menjadi melihat gawai terus menerus sebagai sarana pembelajaran mereka. Belum lagi bagi sekolah – sekolah yang berada di daerah pelosok, keadaan ini bisa menjadi lebih sulit karena keterbatasan jaringan internet dan gawai yang memadai. Di pihak guru, mereka harus bekerja ekstra keras untuk mendidik dan membangun komunikasi dengan anak – anak di balik layar laptop dan berusaha menerangkan materi yang dibawakan sejelas mungkin. Pihak sekolah juga harus menjaga wilayah sekolah yang tidak dipakai untuk kegiatan belajar mengajar seperti pada umumnya. Masih banyak lagi efek yang menjadi tantangan di bidang sekolah ini. 

Momen kesempatan atau kehilangan?

Di dalam kondisi seperti ini, tentu saja banyak hal – hal yang seharusnya dilakukan, namun tidak bisa dan tidak dianjurkan demi keselamatan bersama. Generasi anak – anak sekolah yang mendapatkan pembelajarannya secara daring tidak dipungkiri bisa menjadi berbeda dengan anak – anak dengan pembelajaran konvensional (tatap muka di kelas), dengan segala keterbatasan yang dihadapi. Namun, yang jelas momen seperti ini tidak bisa dilihat sebagai momen kehilangan, melainkan dilihat sebagai momen kesempatan. Meskipun keadaan yang sekarang memiliki efek yang tidak sedikit, namun momen ini bisa dijadikan kesempatan untuk menggunakan, memaksimalkan dan beradaptasi dengan kondisi yang ada, serta kesempatan untuk menyiapkan diri menuju dunia yang lebih digital. Tidak untuk sekarang, karena ini akan memakan waktu dan proses yang panjang ke depan dan membutuhkan peran dari berbagai arah, selama keadaan masih harus memaksa kita untuk hidup dengan keadaan normal yang baru. 

Sampai keadaan menjadi lebih baik lagi, mari kita menggunakan keadaan yang ada sebaik dan sesehat mungkin yang kita bisa 🙂

Cara menghadapi dan mengatasi kegagalan

Kegagalan: Awal Mula, bukan Akhir!

Setiap proses tidak lepas dari kegagalan dan kesuksesan. They co-exist. Tidaklah mungkin jika selalu gagal dan selalu sukses, keduanya akan terjadi secara berkesinambungan dan membawa kita kepada arti kesuksesan yang sebenarnya. Bisa dibayangkan jika seseorang mengalami kesuksesan terus menerus, atau selalu gagal. Kejadian yang mereka alami tidak akan memberikan pelajaran apa – apa, sedangkan kehidupan adalah tempatnya salah dan saatnya kita belajar dari kesalahan tersebut, dan begitu juga halnya dengan kegagalan. 

Rasanya gagal? Pahit.

Mengalami kegagalan memang nggak enak. Sakit, tapi nggak berdarah.Tidak ada orang yang menginginkan kegagalan, semua ingin apa yang dikerjakan membuahkan hasil. Namun, tidak semua akan berjalan sesuai kemauan kita, betul? I assume we would know that for a fact. Mungkin kita pernah mendapatkan nilai yang tidak sesuai dengan usaha kita, mungkin kita pernah tidak diterima di sekolah yang kita inginkan, atau mungkin sesederhana masakanmu terlalu asin. Terkadang, tidak semua kegagalan ada di luar kendali kita, namun yang perlu diingat: tidak ada kegagalan yang terlalu remeh, dan tidak ada kegagalan yang terlalu besar untuk disesali. 

Namun, bukan berarti kegagalan tidak bisa kita syukuri. Gagal memang pasti dan setelah terjadi tidak bisa diubah, namun yang bisa diubah adalah bagaimana kita menerima kegagalan tersebut dan mengubahnya menjadi kekuatan. Kegagalan bukan untuk diabaikan, tetapi untuk diterima, dirasakan, dan dibuat pelajaran. 

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi kegagalan?

Ini mungkin terdengar sulit, tapi yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi kegagalan adalah dengan menerima bahwa kamu gagal. Yes, you read that right. Semakin dielak, maka semakin kamu memperbesar kesempatan kamu untuk gagal lagi kedepannya. 

How can we possibly accept and admit our failure? Well, it takes time. Maybe a lot of them. Tidak semua orang bisa menerima kegagalan secara gamblang karena mengalami kegagalan memang menyakitkan. Kebanyakan orang menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang tidak ingin diketahui dan ingin ditutupi, mungkin bagaimana masyarakat melihat kegagalan juga mempengaruhi hal ini. Padahal, jika kita melihat kegagalan dari cara pandang yang berbeda, kamu bisa mulai dengan menganggap bahwa kegagalan ini sebagai proses pembelajaran yang berharga. Kita diberikan kesempatan untuk merasakan kegagalan bukan untuk hanya diratapi, tapi supaya kita memahami cara yang benar. Lalu, kamu bisa melihat kembali ke keberhasilan kamu sebelumnya dan memahami bahwa kamu juga pernah sukses dan memang hidup adalah roda yang berputar, tidak selamanya kamu akan di atas, dan tidak akan selamanya kamu di bawah. Kamu bisa menulis di jurnal atas segala pencapaian dan kegagalan yang kamu alami, merefleksikan hal – hal yang sudah membawamu sampai ke titik ini. Setelah kamu sudah bisa menerima kegagalan tersebut, maka selanjutnya kamu fokus pada perbaikan dari kegagalan yang sudah kamu alami. Pelajari di bagian mana kamu gagalnya dan pahami cara memperbaikinya. 

Jadi, hal yang harus diingat adalah, kegagalan bukanlah sesuatu untuk diratapi, tetapi dipelajari. Kegagalan bukan akhir dari segalanya, tapi awal mula dari keberhasilan. Memang boleh ada masa bersedihnya, namun bangkit dari kegagalan jauh lebih penting dari itu, kawan MinVit! Tetap semangat, ya!

Work Hard Work Smart

Work Hard or Work Smart?

Semakin dewasa, kita sering dihadapkan pada banyak kesibukan dan pekerjaan. Sering juga kita merasa bahwa 24 jam dalam sehari tidak cukup untuk melakukan semua pekerjaan yang ada. Alhasil, kita berpikir untuk mengerahkan semua kekuatan kita sebisa mungkin untuk menyelesaikan semua pekerjaan. 

Namun pada kenyataannya, seringkali juga kita merasa bahwa kerja keras yang kita tuangkan tidak membuahkan hasil sesuai dengan energi yang keluarkan dan waktu yang kita habiskan. Pemikiran ini bisa berujung pada perasaan frustasi dan pada akhirnya menganggu produktivitas pekerjaan kita. Nah, pernahkah berpikir untuk mengubah mindset menjadi bekerja dengan cerdas? Lantas, apa perbedaan keduanya, work hard dan work smart?

Bekerja dengan cerdas, atau work smart bukan berarti tidak harus bekerja keras, namun demi mencapai tujuan yang diinginkan dengan lebih efektif dan menghemat tenaga dan waktu, bekerja keras bisa disandingi dengan bekerja dengan cerdas. 

Tidak ada cara yang salah, it’s just a matter of choices! Untuk mengetahui pola bekerja mana yang bisa kamu aplikasikan, kita perhatikan dulu perbedaan keduanya! 

Perbedaan Work Smart dan Work Hard

Work hard berarti kita mengerahkan segala tenaga, pikiran dan waktu untuk mencapai tujuan, menargetkan kuantitas dan biasanya dengan cara yang tradisional atau saklek. Lama waktu yang dihabiskan juga bisa beragam, banyak variabel yang nantinya akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas waktunya.

On the other hand, work smart biasanya dilakukan dengan memahami tujuan yang ingin dituju secara keseluruhan beserta caranya, membuat skala prioritas (menghindari multitasking), menggunakan waktu istirahat semaksimal mungkin, mengejar value kualitas dari pekerjaan, dan selalu berinovasi. Dengan bekerja secara cerdas, kita juga dilatih untuk mengatur manajemen waktu dan disiplin terhadapnya juga, dan juga menghindari toxic productivity.

Nah, dari sini, kawan MinVit bisa menimbang cara mana yang lebih cocok untuk pekerjaan yang sedang dihadapi. Tetapi, better yet, kalau kita bisa menggabungkan keduanya di mana kita bisa mengerahkan seluruh kemampuan kita dan tentu dengan perhitungan efisiensi, prioritas dan manajemen waktu yang tepat! At the end of the day, tujuan yang ingin dicapai adalah sama, hanya cara bekerjanya yang berubah atau disesuaikan berdasarkan kebutuhan.